Apa Esensi Pendidikan Dasar?

esensi pendidikan dasar

Salah satu kebiasaan saya adalah suka mengamati berbagai fenomena, termasuk fenomena pendidikan. Saat sedang libur semester, saya selalu pulang ke rumah. Di masa liburan ini, saya sering mengamati betapa sibuknya anak SD zaman sekarang. Dua adik saya yang masih SD tampak begitu sibuk.

Pagi hari mereka sudah harus berangkat ke sekolah. Siang sepulang sekolah (sekitar jam 12) mereka hanya punya waktu sekitar 1 – 2 jam untuk istirahat dan makan siang. Selanjutnya mereka harus segera berangkat les. Les pun tidak tanggung-tanggung. Mereka harus menghabiskan waktu dengan les hingga sore (menjelang jam 6 sore).

Sepulang les, mereka hanya bisa beristirahat sebentar. Mereka sudah ditunggu dengan deadline PR yang harus dikumpul keesokan harinya. Alhasil, mereka harus belajar dan mengerjakan PR.

Belum lagi saya juga sering mengamati ketika orang tua saya dengan gencarnya mengharuskan adik saya untuk les. Mereka diharuskan ikut les bahasa Inggris yang menguras waktu.

Saya tidak selalu sepakat dengan orang tua. Bagi saya, belum penting bagi adik-adik kecil tadi untuk jago bahasa Inggris.

Sebegitu sibukkah anak SD zaman sekarang? Sampai-sampai mereka tak lagi leluasa untuk bermain dan berkehidupan sosial? Lantas, inikah guna pendidikan dasar?

Esensi Pendidikan Dasar

Di awal saya sempat mengatakan bahwa saya agak heran ketika orang tua “memaksa” anaknya (yang masih berumur 5 – 10 tahun) untuk pandai bahasa Inggris. Yang saya heran, kenapa sih anak-anak itu harus sampai dipaksa? Apakah mereka di umur 10 tahun sudah harus jadi duta besar Indoensia untuk Inggris? Atau mereka di umur 13 tahun sudah harus menangani presentasi bisnis untuk klien di USA sana?

Nggak kan? Terus kenapa harus banget jago bahasa Inggris.

Saya setuju bahwa bahasa Inggris itu penting (bahkan sangat penting). Sebab sekarang sudah eranya globalisasi, di mana seluruh dunia sudah terhubung. Untuk bisa berkomunikasi global dengan baik tentu kita butuh penguasaan bahasa Inggris.

Namun, apakah anak SD harus sampai dipaksa untuk belajar bahasa Inggris?

Saya sudah belajar bahasa Inggris sejak kelas 1 SD. Selama 12 tahun saya sekolah (dari kelas 1 – kelas 12), harus diakui bahasa Inggris saya ndak bagus-bagus amat. Padahal sudah 12 tahun lho saya belajar bahasa Inggris. Setiap tahun belajar bahasa Inggris, tiap minggu ketemu pelajaran bahasa Inggris. Tapi kenapa ndak jago-jago?

Barulah semenjak kuliah saya tertarik meningkatkan kemampuan bahasa Inggris. Itu pun karena banyak bahan bacaan kuliah yang memakai bahasa Inggris.

Akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa penguasaan suatu ilmu baru akan tercapai ketika ilmu tersebut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Anak umur 5 tahun di Inggris tidak perlu les Inggris, tetapi bahasa Inggris mereka jago. Kenapa? Ya karena sehari-hari mereka ngomong pakai bahasa Inggris.

Contoh lain, sampai saat ini saya tidak kuliah di bidang teknologi informasi. Tapi untungnya saya punya beberapa skill internet marketing dan digital yang sangat membantu. Saya bisa membuat website, saya bisa menerapkan SEO (Search Engine Opimization), saya bisa membuat video dan editing. Bahkan saya beberapa kali diundang ke kampus-kampus untuk bicara soal digital marketing dan SEO. Padahal sama sekali saya tidak pernah belajar skill membuat website/SEO tadi secara formal. Tapi kok saya tetap bisa melakukannya? Jawabannya karena saya belajar secara otodidak dan menjadikan skill tadi sebagai bagian dari keseharian saya.

Kembali ke topik pendidikan dasar. Menurut saya, anak SD sekarang terlalu dipaksa untuk jago. Harus pandai matematika, harus jago bahasa Indonesia, harus mengerti tentang sejarah hafalan, harus pintar bahasa Inggris, wah berat banget beban mereka. Padahal usia mereka paling baru kisaran 10 tahun.

Bagi saya, tugas seorang guru dan sistem pendidikan SD adalah membentuk karakter siswa pembelajar.

Pelajaran tentang moral adalah yang paling penting. Setidaknya anak SD harus dibentuk untuk jadi anggota masyarakat yang baik. Anggota masyarakat yang baik ini misalnya : jujur, rendah hati, toleran, taat aturan, disiplin, tidak membuang sampah sembarangan, dan tidak nyontek. Kalau pendidikan moral ini diabaikan maka jangan heran kalau anak-anak tadi akan jadi koruptor atau tukang suap di masa depan.

Harapan saya tidak muluk-muluk. Cukuplah adik-adik SD yang lucu itu jadi siswa yang baik dan sikap/moralnya bagus. Kalau itu tercapai, maka barulah seorang guru bisa dikatakan berhasil.

Menjadikan Siswa Punya Rasa Ingin Tahu dan Suka Belajar

Rasa ingin tahu, merupakan komponen dasar dari proses pendidikan.

Rasa ingin tahu merupakan komponen dasar dari proses pendidikan.

Selain moral yang baik, hal lain yang juga wajib dicapai adalah siswa punya rasa ingin tahu yang tinggi, dan mereka suka belajar. Rasa ingin tahu adalah komponen terpenting dalam proses belajar. Tanpa adanya rasa ingin tahu, seseorang akan berhenti untuk mencari tahu. Ia sekadar menerima apa yang sudah ada. Ia ikut arus, ia ikut apa yang sudah ada.

Padahal inovator dan penemu selalu membuat terobosan baru. Mereka tidak puas dengan keadaan sekarang. Mereka terus mencari apa lagi yang baru, apa yang harus diciptakan agar kehidupan jadi lebih baik. Jika pendidik gagal membangun kecintaan akan rasa ingin tahu di jiwa siswa-siswa, maka jangan heran kalau sampai kapanpun bangsa yang namanya Indonesia itu akan tetap jadi bangsa konsumen. Bukan bangsa pencipta. Tak heran sampai di tahun 2016 ini, ekonomi Indonesia selalu ditopang oleh konsumsi, bukan ekonomi berbasis produksi.

Rasa ingin tahu dan kecintaan terhadap belajar ini jauh lebih penting daripada nilai UN yang tinggi. Boleh saja nilai UN-mu tidak terlalu tinggi (misal : hanya 7), asalkan rasa ingin tahumu tinggi. Engkau tidak akan lelah untuk mempelajari hal baru, terus bertanya dan mencari jawaban, dan selalu tertarik belajar pengetahuan-pengetahuan baru.

Bayangkan betapa eloknya siswa tersebut. Ia punya rasa ingin tahu, sehingga tanpa diminta pun ia dengan sukaerala membaca buku, berdiskusi, dan mengadakan penelitian. Tanpa perlu diming-imingi dapat nilai 9 di rapor, ia dengan suka mengadakan penelitian dan menciptakan karya. Semuanya dilakukan bukan karena imbalan nilai atau IPK, tapi karena sekadar suka dan menjalankan hobi.

Haruskah Kita Menyalahkan Sistem?

Ini mah gara-gara sistem. Dari sono nya emang sudah salah. Ya mau gimana lagi…

Sering saya mendengar bahwa sistem pendidikan yang kerap disalahkan. Memang betul bahwa guru hanya mengikuti sistem yang berlaku. Sudah ada sistem baku yang mengatur tentang pendidikan. Guru dituntut untuk sesuai prosedur dan sistem.

Tapi yang jadi pertanyaan saya, apakah sistem itu sudah sedemikian baik? Kalau sistem itu jelek dan kurang inovasi, apakah itu harus tetap dipertahankan? Ayolah, prosesor komputer saja selalu meningkat tiap tahun. Masa sih cara mengajar dan sistem pendidikan nya begitu-begitu saja?

Solusi yang saya tawarkan adalah setiap pendidik harus mengambil tanggung jawab masing-masing. Mereka (para pendidik) harus memiliki kecintaan (passion) terhadap apa yang mereka lakukan. Mereka harusnya bersyukur karena mereka diberikan posisi strategis dalam membangun kemajuan bangsa.

Ketika kecintaan itu ada, seorang guru bukan hanya mengejar selesainya materi di kurikulum. Lebih dari itu, sang guru akan memperhatikan tumbuh kembang peserta didiknya. Ia akan menempatkan murid-muridnya sebagai aset bangsa yang harus dikembangkan. Harus diasah dan dibuat gemilang layaknya berlian terbaik di muka bumi. Kalau mau jadi seorang guru, maka layak dan pantas untuk belajar dari sosok guru dalam Laskar Pelangi.

laskar pelangi

Perhatikan setiap murid, bantulah mereka untuk bertumbuh dan berkembang dengan baik.

Hanya saja, jangan lupakan yang satu ini. Kita boleh bicara soal passion dan kecintaan, namun ketika kesejahteraan dilupakan, maka itu tak lebih dari sekadar bullshit. Ada tiga komponen yang membentuk pekerjaan penuh passion. Komponen tersebut antara lain : adanya rasa cinta (kecintaan) terhadap apa yang dikerjakan, adanya kemampuan yang dahsyat (orang tersebut kompeten), dan orang tersebut dibayar dengan layak (sejahtera). Tanpa perpaduan dari ketiganya maka marilah lupakan tentang pekerjaan impian penuh passion.

Akhir kata, saya berdoa supaya adik-adik saya (dan jutaan adik-adik lain) agar mereka tabah menjalani pendidikan di negeri ini. Saya beruntung karena sudah lulus SMA dan sebentar lagi akan lulus perguruan tinggi. Setidaknya beban saya berkurang, saya tak harus mengikuti sistem usang yang membosankan itu.

Jefferly Helianthusonfri

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.