Apakah Jurnalistik Akan Mati?

jurnalistik

Ada satu pertanyaan yang sering didengungkan dalam perkuliahan jurnalistik. Pertanyaan itu adalah “Apakah jurnalistik akan Mati?”

Tidak banyak dosen yang sering menggaungkan pertanyaan ini. Selama saya kuliah dari semester 1 – semester 4, tak banyak dosen yang mengajak mahasiswa untuk “berpikir”. Berpikir di sini bukan sekadar berpikir untuk menjawab soal ujian. Bukan. Berpikir yang saya maksud adalah berpikir mendalam dan luas. Tak sekadar memikirkan teori dan hafalan di buku, tetapi berpikir tentang semua hal jurnalistik. Memikirkan masa depan dunia jurnalistik.

andrey andoko

Andrey Andoko.

Salah satu dosen yang sering menggaungkan tentang “Apakah jurnalistik akan mati?” ialah Andrey Andoko. Wakil rektor Universitas Multimedia Nusantara itu beberapa kali meminta kami (para mahasiswa) untuk menulis esai tentang jurnalistik dan teknologi digital yang kian berkembang. Minat membaca koran yang kian turun, perkembangan teknologi digital yang kian dahsyat, merupakan sederet bahan diskusi kami di kelas yang ia ampu, kelas Perkembangan Teknologi Komunikasi.

Jika pertanyaan “Apakah jurnalistik akan mati?” ditanyakan pada saya, maka saya akan menjawab begini, “Belum, dunia jurnalistik belum kiamat.” Selagi masih ada (banyak) manusia yang hidup di muka bumi ini, selama itu pula jurnalistik akan tetap dibutuhkan. Apapun wujudnya (entah itu cetak atau digital atau sesuatu yang baru nanti), jurnalistik akan tetap dibutuhkan.

Dari ribuan tahun yang lalu hingga kini manusia tetaplah manusia. (Sebagian) manusia akan tetap menjadi perusak alam, koruptor, dosen semena-mena, pembunuh, diktator, bos narkoba, dan penindas. Selagi manusia-manusia tadi tetap ada, selama itu pula akan ada kaum-kaum voiceless. Kaum-kaum yang tak mampu berusara, kaum-kaum yang terpinggirkan.

Bukankah jurnalis itu  pahlawan yang membela kaum voiceless? Atau justru sekarang jurnalis menjadi corong propaganda bos mereka (para petinggi partai politik atau pemilik modal itu)? Yang pasti selama masih ada kaum voiceless, maka selama itu pula jurnalis akan tetap dibutuhkan.

Senja Kala Industri Media Cetak

Inikah senja kala media cetak?

Inikah senja kala media cetak?

Mereka yang selama ini mengandalkan hidup dari industri media cetak, pantaslah untuk bergusar hati. Bukan, ini bukan hanya tentang pekerja Kompas, Tempo, atau sederet media cetak lainnya. Tetapi juga bagi mereka yang bermain di industri buku. Sebagai penulis yang sudah lebih dari empat tahun berkecimpung di industri buku, saya sudah melihat (lumayan) banyak hal. Salah satu hal yang saya lihat adalah turunnya oplah cetak buku.

Jika dulu (sekitar tahun 2010-an) buku bisa dicetak sampai 3000 eksemplar, maka kini untuk cetakan pertama, penerbit hanya mau mencetak 1500 eksemplar. Alasannya klasik, “serapan pasar memang cuma segitu. Jadi kami harus menyesuaikan diri,” ujar seorang editor. Dengan senyum getir saya ingin menimpali, “oh begitu ya.. wah hebat ya. Kita tunggu saja oplahnya jadi 500, 50, dan tinggal 5 eksemplar.” Lalu tak lama berselang muncul pemberitaan bahwa di mana-mana penerbit buku akan banyak yang gulung tikar.

Singkatnya media cetak sudah mulai memasuki fase-fase mendung. Awan kelabu menaungi mereka. Apakah ini pertanda bahwa kelak media cetak akan benar-benar mati? Kita tunggu saja.

Menghitung Hari Menuju “Kematian” Kompas Cetak?

Tak ada yang abadi di dunia ini. Siapa sangka Nokia yang dulu merajai dunia telepon seluler kini tak lebih dari sekadar nama yang membawa ke ruang nostalgia. Ruang nostalgia ketika kita (generasi X dan Y) masih muda. Saya ingat betul, saat saya SD, memiliki ponsel Nokia itu bangganya bukan kepalang. Kami baru disebut anak-anak gaul kalau sejak kecil sudah bisa punya ponsel, ponsel Nokia.

Tapi kini Nokia tinggal nama. Samsung dan Apple dengan elegan melibas Nokia ke papan penggilasan. Duet maut Samsung dan Apple membantai telak Nokia. Bak pertandingan sepak bola, Nokia dihajar babak belur tujuh gol tanpa balas.

Hal yang sama bisa saja terjadi pada nama-nama mapan di industri media saat ini. Bukan tak mungkin Kompas cetak yang dikenal sebagai salah satu “raja” media di Indonesia kelak akan tergolek lemah di pinggir lapangan, tertusuk panah tajam persaingan, semaput.

Imajinasi saya memang nakal, pikiran saya kadang kelewatan. Kendati demikian, imajinasi tentang semaputnya Kompas bukan datang tiba-tiba seperti petir di siang bolong. Imajinasi liar tadi timbul ketika dosen Sosiologi Komunikasi saya, Irwan Julianto, menyampaikan pernyataan bahwa pendapatan iklan dari media online (macam Kompas.com) belum sanggup mencapai 10%-nya pendapatan Kompas cetak.

Menurutnya, sebagian besar pendapatan iklan digital lari ke Facebook dan Google. Yap, cerita lama bersemi kembali. Cerita tentang uang anak bangsa sendiri yang lari ke kantong-kantong bos besar di Silicon Valley sana.

Saya pun mencoba menganalisis mengapa pendapatan iklan lari ke Facebook atau Google. Tak usah kau risaukan metode analisisku, kawan. Analisisku didasarkan pada pengalaman pribadi. Pakai logika anak SD pun bisa. Begini penjelasannya.

Bagi para pelaku UKM, memasang iklan di Facebook dan Google cenderung lebih efektif. Mengapa? Sebab Facebook dan Google menawarkan teknologi iklan yang layak diacungi jempol. Ambil contoh di Facebook Ads. Saat beriklan di Facebook, kita bisa membuat iklan yang sangat tertarget (berdasarkan umur, jenis kelamin, hobi, bahkan berdasarkan sampai ke hal detail–misalkan tentang buku bacaan favoritmu, atau film yang kemarin malam baru kamu tonton bersama gebetan).

Pun demikian di Google. Kita bisa membuat iklan berdasarkan kata kunci yang sangat tertarget. Contoh, kalau kita jualan mobil, maka kita bisa pasang iklan untuk kata kunci “jual mobil” atau “jual mobil murah”. Alhasil ketika orang-orang mencari kata kunci “jual mobil murah” di Google, otomatis iklan kita akan ditayangkan. Singkat kata, iklan kita akan dilihat langsung oleh mereka yang mau beli mobil.

Google dan Facebook unggul dalam teknologi periklanan mereka. Dengan teknologi yang keren tadi, peluang terciptanya keberhasilan pemasaran semakin tinggi. Investor dan pebisnis itu tidak peduli pada embel-embel seperti karya bangsa sendiri, sesama orang Indonesia, atau lainnya. Mereka bicara dalam bahasa yang sama, bahasa keuntungan. Kalau pakai teknologi bule bisa menghasilkan keuntungan tinggi, mengapa harus repot-repot pakai teknologi buatan anak kampung sebelah yang tidak menjanjikan keuntungan sebesar teknologi bule? Alhasil, banyak pelaku UKM dan pebisnis yang berbondong-bondong menyetor anggaran iklan mereka ke Facebook dan Google.

Contoh iklan Google AdWords. Google mampu menyediakan platform periklanan yang sangat baik. Dengan Google AdWords, pengiklan bisa membuat iklan dengan sangat tertarget.

Contoh iklan Google AdWords. Google mampu menyediakan platform periklanan yang sangat baik. Dengan Google AdWords, pengiklan bisa membuat iklan dengan sangat tertarget.

Selain itu, Google dan Facebook tak perlu membayar jurnalis. Konten-konten mereka dihasilkan secara sukarela oleh milyaran pengguna internet di luar sana. Entah itu para blogger, pengguna Facebook yang aktif, YouTuber, dan lain sebagainya.

Jika kondisi ini terus terjadi, bukan tak mungkin kelak Kompas akan berebutan remah-remah kue dalam bisnis periklanan. Google dan Facebook akan duduk di meja paling mewah, menyantap kue iklan terbesar. Sementara media-media lokal akan lesehan di bawah sana, ditemani dinginnya lantai, berebut remah-remah kue sisa Facebook dan Google.

Jika ini yang terjadi, mungkin imajinasi saya bisa jadi kenyataan. Imajinasi bahwa media-media konvensional akan semaput dan tergilas roda zaman.

Pelajaran yang Bisa Dipetik

Seperti statement saya di awal, jurnalistik tetaplah jurnalistik. Jurnalistik akan tetap dibutuhkan. Yang jadi persoalan bukanlah jurnalistik akan tetap hidup atau tidak, melainkan jurnalistik manakah yang akan tetap hidup. Apakah jurnalistik cetak macam koran/majalah, jurnalistik suara (radio), jurnalistik tv, atau justru jurnalistik digital?

Sebagai mahasiswa jurnalistik, saya sering mengonsumsi media online. Dari ratusan berita yang sudah saya baca, tak banyak berita yang benar-benar berkesan dan nyangkut di kepala saya. Kenapa ini terjadi? Tidak lain tidak bukan karena karakteritik berita online yang saya baca adalah berita-berita numpang lewat. Ibarat teman yang ketemu di jalan, berita tadi hanya menyapa “hai” sebentar, lalu pergi dan tak berbekas.

Ketika semua media online memajang “berita numpang lewat”, maka berita-berita yang beda justru akan ditunggu oleh pembaca. Berita yang beda ini kerap saya jumpai di media online yang memang fokus memuat tulisan-tulisan mendalam. Salah satunya di situs PanditFootball.com.

Salah satu situs favorit saya, PanditFootball.com.

Salah satu situs favorit saya, PanditFootball.com.

Ada banyak sekali situs berita online tentang sepak bola, tetapi saya tetap setia membaca PanditFootball.com. Sekalipun Pandit menyajikan berita kemenangan Barcelona 6-0 atas Getafe, cerita kemenagan tadi bukan hanya tentang Messi dan Neymar yang mencetak gol. Pandit bercerita sisi lain, seperti kedalaman skuat Barcelona hingga analisis pola serangan Barcelona.

Nah konten-konten macam inilah yang akan dirindukan pembaca. Konten mendalam inilah yang dapat menjadi senjata andalan media massa dalam menghadapi kerasnya persaingan. Ketika orang-orang berbondong-bondong membaca media online, maka feature dan tulisan mendalam harusnya bisa diandalkan para jurnalis cetak. Feature dan tulisan mendalam inilah yang bisa menjadi senjata pamungkas para pelaku industri cetak. Lewat senjata pamungkas ini pulalah, para pelaku industri cetak masih bisa bersaing dengan media lainnya.

Bukankah orang-orang tetap suka membaca novel sekalipun tiap tahun segudang film Hollywood muncul di pasaran? Bukankah Supernova-Dee Lestari tetap diminati sekalipun ada banyak pilihan film, sinetron, atau FTV di luar sana? Bagi saya, tulisan yang mendalam, detail, dan ngangenin akan tetap dipuja sekalipun ada banyak pilihan media di luar sana.

Apapun medianya, esensi jurnalistik tetaplah sama. Membela kaum yang lemah dan menjadi pilar keempat di negara demokrasi. Jadi tak perlu terlalu takut. Bukankah perubahan adalah salah satu sifat kehidupan? Yang pasti, siapa yang kuat yang akan bertahan. Siapa yang mampu beradaptasi ialah yang akan bertahan. Media yang mampu berdapatasi, serta media yang mampu menjaga integritas dan kredibiliitaslah yang akan bertahan.

Beradaptasi di sini bukan hanya dari segi konten, tetapi juga dari segi model bisnis. Media perlu mencari model bisnis terbaik yang sesuai dengan tuntutan perubahan.

Terlepas dari apapun wujudnya, jurnalistik akan tetap hadir dan dibutuhkan manusia. Jurnalistik belum mati, jurnalistik belum kiamat, setidaknya sampai manusia tetap ada di muka bumi.

Jefferly Helianthusonfri

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.