Babak Belur Dihajar Semester 5

“Duh capek banget.”

“Gila… dua hari ini gua begadang mulu, gak bisa tidur sebelum jam 3 pagi.”

Begitulah beberapa ekspresi yang keluar dari (sebagian besar) mahasiswa semester 5. Hal senada juga dialami oleh saya dan teman-teman di prodi jurnalistik. Bagi kami, semester 5 ini bisa dibilang sebagai semester yang paling melelahkan sepanjang menjalani perkuliahan.

Sebagai gambaran, saya mengambil delapan mata kuliah dalam semester tersebut. Beberapa di antaranya : Indepth Reporting, Online Journalism, Feature Media Siar, Produksi TV 1, Metodologi Penelitian Komunikasi, Statistika, Kajian Media, dan Produksi Radio. Yang membuat perkuliahan menguras energi adalah tugas dan project dari mata kuliah-mata kuliah tadi. Tak tanggung-tanggung, ujian akhir 6 dari 8 matakuliah tadi berupa pengumpulan project.

Tak cukup sampai di situ, hampir setiap minggu, kami juga ditemani tugas-tugas yang setia menanti.

Salah satu liputan yang kami kerjakan, meliput penggusuran di Bukit Duri, Jakarta (September 2016).

Lantas, apakah semester ini akan dirindukan? Apa saja yang saya pelajari dari semester yang katanya membuat babak belur ini? Ini dia ceritanya.

Pintar-Pintar Memilih Teman Sekelompok

Siapa temanmu bisa jadi turut mempengaruhi seberapa bagus IPmu di semester ini. Hampir semua project dikerjakan secara kelompok. Anggota kelompoknya bisa 5 orang, 6 orang, atau bahkan sampai 9 orang. Secara umum, saya mendapatkan kelompok yang lumayan oke di semester 5 ini. Hanya saja, di dua mata kuliah saya mendapatkan kelompok yang kerap terjadi miss komunikasi.

Dalam dua kelompok tadi, kelompok seolah terpecah menjadi kubu tertentu, dan tak bisa dipungkiri, aroma ego tercium cukup kuat. Misalkan saat liputan, kami hitung-hitungan. Contohnya begini, misalkan kami mendapat tugas meliput pilkada langsung 2017. Nah suatu ketika kami harus meliput di akhir pekan. Jawaban yang bertebaran di kelompok kira-kira begini : “wah gua gak bisa nih kalo weekend”, “sama aku juga gak bisa”, “yah, masa sih pas weekend”. Alhasil berangkatlah tim liputan hanya dua orang. Dengan perlengkapan seadanya dan memberi hasil juga seadanya. Mantap jiwa

Contoh lain, kadang ada juga teman kelompok yang tidak setipe dengan cara kerja kita. Ketika liputan, semua anggota harus turun bersama. Padahal, saya termasuk orang yang fleksibel dan terserah elu. Bagi saya, kalaupun elu nggak bisa ikut liputan hari ini, ya udahlah, santai. Lu bisa kerjakan bagian lain, atau turun ke lapangan di hari lain. Toh kita masih ketemu juga kan tiap minggu. Yang penting lu berkomitmen dan memberi kontribusi.

Akibat cara kerja yang agak berbeda ini, sempat juga terjadi miss komunikasi. Lagi-lagi imbasnya pada hasil kerja kelompok. Di beberapa bagian, hasil kerja kelompok kami pun tidak sempurna, harus ditingkatkan lagi.

Saran saya : pilihlah teman yang membuat kamu nyaman, pastikan mereka berkomitmen. Sepanjang semester 5 ini, kelompok yang paling saya sukai adalah kelompok mata kuliah Online Journalism. Hal yang saya sukai dari kelompok ini adalah penuh toleransi dan mau berkontribusi. Kebetulan saya menjadi ketua kelompok ini.

Dalam project jurnalisme online ini, kami bekerja layaknya jurnalis profesional. Jadi, setiap kelompok mendapatkan jatah kompartemen masing-masing. Dalam kompartemen tersebut, kami harus membuat karya jurnalistik online sesuai tema yang ditentukan. Kelompok saya mendapatkan topik yang kata orang cukup berat, yakni layanan publik. Jadi, tugas kami meliput hal-hal seputar layanan publik, fasilitas publik, kinerja pemerintah, dsb. Salah satu contoh hasil karya yang kami buat misalnya berita ini : Sisi Lain dari Proyek Kereta Bandara Soekarno Hatta.

Hasil liputan seputar proyek kereta Bandara Soekarno Hatta. Liputan pada Desember 2016.

Kinerja kelompok kami bisa dibilang baik (meski ada beberapa hal juga yang masih harus ditingkatkan). Saya merasa suasana kelompok ini kondusif. Semua bisa mengajukan ide, semua bisa berkontribusi/pembagian tugas jelas, dan toleransi. Ketika satu atau dua anggota tidak bisa liputan, maka mereka meliput di lokasi lain/hari lain. Alhasil, tak perlu ada miss komunikasi.

Filosofi “Ya Udahlah Ya, Yang Penting Selesai Dulu”

Semester 5 memang melelahkan, saya akui hal tersebut. Untuk membuang jauh rasa stress, saya menerapkan filosofi “ya udahlah ya, yang penting selesai dulu”. Dengan filosofi ini saya tidak ingin memasang ekspektasi yang sangat tinggi dan sempurna. Bagi saya, yang penting kerjakan tugasnya sebaik mungkin, lalu selesai dulu. Soal hasilnya sempurna seperti masterpiece atau tidak, itu urusan nanti. Yang penting selesai.

Berinteraksi dengan anak-anak ketika liputan di Rusun Rawa Bebek, Jakarta Timur.

Dengan cara berpikir seperti ini, saya tidak terlalu memusingkan hasil akhir. Sekaligus mengalihkan beban pikiran. Alhasil saya bisa lebih enjoy menjalani perkuliahan.

When in Rome, do as The Romans do juga berlaku di semester ini. Ketika dihadapkan pada kelompok yang berbagai tipe, beradaptasilah. Ikuti cara mereka. Misalkan, untuk mata kuliah produksi radio. Kelompok ini bisa dibilang cukup santai, perlu ditingkatkan dalam ketepatan waktu, dan tidak terlalu memusingkan tugas. Buktinya, kami baru mengerjakan proses rekaman dan produksi konten radio hanya dalam 2 minggu sebelum UAS. Saat kelompok lain sudah memproduksi jauh-jauh hari, kami baru berkejaran dengan deadline di minggu-minggu akhir.

Semula saya cukup kaget dengan tipe kerja kelompok ini. Bahkan pernah terpikir untuk pindah kelompok di awal semester. Tapi akhirnya saya enjoy dan memutuskan, oke kita ikuti cara mereka. Ketika berada di Roma, maka ikutilah cara berperilaku orang Roma. Untungnya, dengan cara ini saya tetap enjoy dan bisa menyelesaikan semester ini.

Jaga Absen, Kerjakan Tugas, Ikuti Apa Kata Dosen

Beberapa teman mengeluhkan sulitnya menjangkau nilai yang tinggi di semester 5. Waktu itu kelas Kajian Media, kami baru melihat nilai UTS, salah satu teman mengeluhkan betapa sulitnya mendapatkan nilai A. Menengok nilai si teman yang tak sampai 70 membuat saya berpikir, ya memang semester ini penuh tantangan.

Tak cuma itu, dalam mata kuliah jurnalisme online, amuk massa bertebaran. Bagaimana tidak, sebagian besar mahasiwa di kelas saya mendapatkan nilai UTS yang tidak bagus (sekitar 50 – 60). Padahal pertanyaan dalam UTS jurnalisme online relatif mudah. Salah satu teman saya yakin bahwa ia menjawab dengan benar dan rasanya ia tak pantas diberi nilai 50.

Lantas, apa soalnya?

Menurut dosen jurnalisme online kami, nilai-nilai yang diberikan buruk karena jawaban mahasiswa belum menjawab substansi persoalan. Memang jawaban yang diberikan cukup tepat dan masuk akal. Hanya saja, kebanyakan mahasiswa menjawab kurang lengkap, tidak detail, dan kurang konkret. Mereka kebanyakan bicara konsep dan abstak. Detail dan konkretnya kurang. Alhasil, nilai tak bagus pun melayang ke pangkuan mereka.

Saya tidak larut dalam prahara tadi. Sebab nilai UTS saya baik. Tak satupun nilai saya kurang dari angka 75. Bahkan hampir semua di atas 80. Nilai UTS ini menjadi bekal yang berharga demi kelulusan. Kenapa? Sebab ketika nilai UTS kita baik (misalkan di atas 70 – 90), maka beban di UAS akan berkurang. Jika kita rajin mengerjakan tugas, nilai UTSnya baik, maka kalaupun di UAS kita jeblok (misal dapat 60), maka sudah pasti kita masih akan tetap lulus.

Oleh karena itu, pastikan kita mengerjakan tugas secara baik dan ikuti apa kata dosen. Ketahui apa yang diinginkan dosen dan berikan hal tersebut. Kalau dosen mintanya kita presentasi dengan oke dan tajam, maka beri hal tersebut. Kalau dosen ingin rancangan liputan kita clear, menarik, dan lengkap, maka hadirkan hal tersebut. Jika dosen ingin kita aktif di kelas, maka hadirkan hal tersebut.

Terakhir, jangan lupa untuk menjaga absen. Jangan gunakan jatah bolos untuk sekadar nongkrong. Sesekali bersantai itu oke, tapi pastikan waktunya tepat. Kenapa? Sebab menjelang UAS, tugas-tugas project akan mulai menggoda untuk dijamah. Tak sedikit waktu yang harus dicurahkan. Bahkan, beberapa teman saya sampai harus keluar kota (ada yang sampai ke Jogja) demi mengerjakan project Feature Media Siar. Kalau kondisinya demikian, pasti si mahasiswa akan pusing tujuh keliling jika jatah absenya sudah habis. Pilihannya hanya dua, beradaptasi dengan kelompok, lalu berupaya memutar akal, atau memutuskan untuk hengkang dan gagal di tengah semester 5.

Kalau tingkat kehadiran di kelas oke, tugas dikerjakan, dan kita benar-benar niat memenuhi harapan dosen, saya yakin semester 5 akan mulus dilalui. Ya meskipun luka-luka lebam akibat keroyokan semester 5 akan tetap membekas. Tapi setidaknya, Anda selamat.

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.