Hidup di Jakarta Itu Tidak Murah

kota besar

Ada gula ada semut. Begitulah bunyi pribahasa yang sering kita dengar. Wujud nyata dari pribahasa ini terlihat jelas di Jakarta dan sekitarnya. Lebih dari 10 juta orang mengadu nasib di ibukota demi kehidupan yang sejahtera. Saya termasuk satu dari belasan juta warga Jabodetabek.

13 Mei 2016, siang itu saya dalam perjalanan dari Tangerang menuju kampus UBM (Universitas Bunda Mulia). Saya hendak menghadiri acara launching buku milik teman saya, seorang penulis asal Belitung. Karena tidak ingin berjibaku dengan padatnya KRL Jabodetabek, saya pun memesan sewa mobil melalui aplikasi Go-Car. Mobil tiba, perjalanan dimulai.

Sepanjang jalan saya ngobrol dengan sopir di sebelah saya. Dari obrolan ini saya kian menyadari bahwa hidup di Jakarta itu tidak murah. Bukan hanya tentang Jakarta yang “kejam”, tapi juga tentang beban masa lalu dari pemerintahan terdahulu.

Tidak Beda Jauh dengan Perbudakan

Usut punya usut, ternyata Muhi Iban (sopir) ini berasal dari Mataram. Menurut ceritanya, sejak kelas 4 SD ia sudah merantau ke Jakarta.

“Saya sudah ke Jakarta sejak kelas 4 SD, Mas. (Waktu itu) ikut teman sekampung yang kuliah di Jakarta,” ujar pria yang kini menetap di Tangerang itu.

Dari obrolan kami, saya jadi tahu bahwa mobil yang ia bawa adalah mobil sewaaan. Harga sewa mobil per harinya 200 ribu Rupiah. Setiap harinya omzet yang ia dapatkan sekitar 450 ribu Rupiah. Jika kita hitung, maka dalam sebulan omzet sopir Go-Car ini bisa mencapai 12 juta lebih. Keren ya? Bisa punya pendapatan 12 juta dalam sebulan.

Tapi jangan senang dulu. Ingat, si Mas tadi harus membayar biaya sewa mobil 200 ribu Rupiah per hari. Dalam sebulan ia harus membayar sewa mobil sekitar 6 juta Rupiah. Hampir separuh pendapatannya lari ke kantong si pemilik mobil. Belum lagi ia harus membayar biaya bensin. Dalam sehari biaya bensin sekitar 100 ribu Rupiah. Jadi, dalam sehari pendapatan bersih si sopir ini sekitar 150 ribu Rupiah.

Saya pun bertanya, berapa lama ia harus bekerja dalam sehari.

“Ya nggak tentu Mas. Saya mah berusaha supaya target harian tercapai. Kadang bisa sampai 12 jam biar mencapai target,” katanya.

Bayangkan, dalam sehari ia perlu bekerja 12 jam untuk bisa mencapai target pendapatan tadi. Dan ironisnya hampir separuh pendapatannya lari ke kantong pemilik mobil sewaan.

“Kenapa nggak beli mobil sendiri, Mas?” saya balas bertanya.

Muhi menjawab bahwa ia terkendala dengan uang muka mobil baru. Ia bercerita bahwa butuh sekitar 9 juta Rupiah untuk bisa mengambil mobil Toyota Agya. Sayangnya ia tak punya uang 9 juta.

Kalau untuk urusan cicilan, sudah tentu Mas sopir ini akan sanggup untuk membayar cicilan. Lah wong dari kerjanya saja ia bisa mengumpulkan sekitar 6 juta untuk membayar sewa mobil. Bagi Mas ini, cicilian mobil 3 – 4 juta sebulan bisa dibilang kecil.

Kenapa nggak coba pinjam dana ke bank atau ke Pegadaian?

Sayangnya ia tak punya sesuatu yang dapat dijaminkan kalau meminjam dana. Rumahnya pun masih terikat kredit sampai 4 atau 5 tahun ke depan.

Saya pun mencoba mengusulkan agar ia menggadaikan sepeda motor miliknya. Ia menjawab bahwa kalaupun sepeda motor digadaikan, itu tidak akan cukup untuk mendapatkan dana 9 juta Rupiah.

Demikian ia terjebak dalam lingkaran setan yang tak hentinya. Ia harus terus bekerja keras, membayar sewa, dan terus menafkahi keluarga. Yang saya sesalkan kenapa si pemilik rental mobil tidak memberikan sedikit keringanan bagi Mas sopir ini. Andaikan si pemilik rental memberi sedikit keringanan, saya yakin Mas sopir ini dapat dengan mudah mengambil mobil baru.

Udah coba ngomong minta keringanan sama si pemilik rental?

“Sudah. Tapi si pemilik bilang nggak bisa. Soalnya dia juga masih nyicil mobilnya,” jawab si sopir.

Sudah tentu si pemilik rental tidak memberikan keringanan. Sekalipun ia tidak menyicil, jelas ia tidak akan rela kalau salah satu “sapi perah”nya  lepas dan tidak bisa ia kendalikan lagi. Kalau si Mas sopir ini punya mobil sendiri, jelas si pemilik akan kehilangan pendapatan sekitar 6 juta dalam sebulan.

Kisah Lain Tentang Jakarta

Beratnya hidup di Jakarta tidak hanya dirasakan oleh Muhi Iban. Jutaan orang juga pasti merasakan hal yang senada. Saya pun merasakan bahwa hidup di Jakarta ini terlalu sumpek. Jutaan orang berebut kesejahteraan di wilayah yang tak lebih dari 670 kilometer persegi. Saya paling sebel sama macetnya Jakarta.

Selalu terbayang jelas ketika saya harus menempuh perjalanan selama 4 jam untuk pulang pergi dari Tangerang ke UBM. Namun beban saya jelas tidak seberat mereka yang di Jakarta. Beruntungnya saya tinggal di Serpong. Hingga saat ini Serpong tidak seramai, sepadat, dan semacet Jakarta (ya walaupan Tangerang juga macet 🙁 ).

Kisah lain datang dari Yudi. Saya cukup sedih membaca kisah Yudi si penjaja kostum Superhero di Jakarta. Anda bisa membaca ceritanya di sini : BBC Indonesia. Sekali lagi, bukti bahwa hidup di Jakarta itu tidak mudah.

Lantas, siapa yang bersalah dari kondisi ini?

Pemerintah punya tanggung jawab atas masalah kompleks ini. Sebagian besar uang yang ada di Indonesia beredar di Jakarta. Alhasil, Jakarta meroket menjadi pusat bisnis Indonesia. Jika suatu saat  Jakarta dan sekitarnya ambruk maka sudah jelas ekonomi Indonesia akan masuk liang kubur.

Kebanyakan orang tertarik merantau ke Jakarta. Akibatnya Jakarta menjadi makin padat. Harga lahan makin mahal, harga rumah kian meroket, jalanan kian ramai. Padahal kekayaan darerah di Indonesia itu jauh lebih dahsyat. Laut Indonesia kaya, lahan Indonesia luas, tambang Indonesia banyak, tapi kenapa orang-orang berbondong-bondong ke Jakarta?

Ternyata potensi daerah belum tergarap dengan optimal. Belum lagi ada segudang persoalan di daerah. Infrastruktur yang kurang memadai, aliran modal yang tidak sedahsyat Jakarta, lapangan kerja yang terbatas, oknum pemerintah daerah yang korup dan tidak amanah, dan banyak lagi.

Contoh, saya sering mendengar cerita bahwa banyak nelayan dan petani yang kesulitan menjual hasil mereka. Hasil bumi Indonesia itu luar biasa, tapi kurang terdistribusi. Banyak sayur dan ikan yang dijual murah di daerah. Padahal harga pangan di Jakarta jauh lebih tinggi. Persoalannya klasik, lagi-lagi ada di infrastruktur, manajemen, dan teknologi.

Jika persoalan kompleks (infrastruktur, teknologi, dan manajemen) ini tidak diperbaiki, maka bersiaplah untuk terus menyaksikan jutaan orang selalu ingin ke Jakarta guna penghidupan yang lebih baik. Inilah masalah yang diwariskan pemerintahan dari generasi ke generasi. Pembangunan yang terpusat di Jawa menjadikan pulau Jawa semakin padat. Semoga pemerintahan sekarang dan yang akan datang mampu membangun daerah secara baik di luar Jawa. Sumatra, Kalimatan, Sulawesi, Papua, dan daerah-daerah lain itu kaya luar biasa.

Pulang Ke Daerah dan Mengembangkan Potensi di Sana

Saya tak sabar untuk segera menyelesaikan kuliah. Selepas lulus, saya berencana untuk pulang ke daerah dan mengembangkan potensi di sana. Pilihan utama saya adalah mulai berbisnis di bidang-bidang pengembangan daerah. Entah itu di perkebunan, properti, atau mungkin lainnya. Yang pasti saya punya mimpi untuk mengembangkan daerah, membangun kolaborasi, guna tercipta kesejahteraan bersama bagi masyarakat di daerah.

Alasan lainnya saya juga sudah terlalu gerah dengan padatnya Jabodetabek.

Bagi Anda yang punya pikiran sama, yuk kita kembangkan daerah-daerah di luar Jawa. Indonesia tidak kekurangan orang pintar dan terdidik kok. Yang dibutuhkan adalah orang-orang kompeten yang tulus dan mau mengembangkan Indonesia dari luar. Indonesia bukan cuma Jawa, Indonesia itu dari Sabang sampai Merauke, juga dari Talaud sampai Rote.

Salam,

Jefferly Helianthusonfri

Disclaimer : informasi yang disajikan dalam cerita sopir tadi adalah hasil obrolan saya dengan sopir Go-Car. Informasi ini hanya sekadar gambaran, tidak dapat dijadikan sebagai acuan utama dan generalisasi. Dibutuhkan riset dan validasi mendalam untuk membuktian seluruh kebenaran dari informasi di atas

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.