Industri Data dan Periklanan Media

industri data

Sabtu siang (jam 11 sampai jam 2), adalah waktu bagi saya mengikuti kelas media marketing. Media marketing adalah mata kuliah di mana mahasiswa belajar hal-hal yang berkaitan dengan menjual sebuah media. Sudah tentu, bahasan yang dipelajari adalah seputar mengelola dan mengembangkan bisnis media.

Misalkan mahasiswa diperkenalkan pada konsep dan praktik manajemen. Mahasiswa diperkenalkan tentang landscape industri media, mahasiswa diperkenalkan pada konsep-konsep rating, share, menghitung biaya iklan, dan lain sebagainya. Saya punya minat dalam bidang bisnis dan manajemen, namun kadang saya merasa bahwa apa yang diajarkan di kelas media marketing tak lebih dari sekadar wacana, konsep, dan praktik yang jauh dari keseharian mahasiswa.

Ada aspek baru yang perlu dijangkau oleh mata kuliah media marketing. Inilah PR bagi dosen-dosen media marketing.

Hidup di Dua Alam Industri Media

Sebagai generasi yang lahir di penghujung tahun 90’an, tentu saya merasakan hidup di dua alam industri media. Semasa TK dan SD saya merasakan betul betapa digdayanya media mainstream (seperti koran, majalah, dan televisi). Waktu itu internet belum populer. Alhasil hiburan kami (anak 90’an) berasal dari media-media mainstream.

Anda yang anak 90’an pasti ingat betul kalau hari Minggu punya agenda wajib. Agenda itu adalah marathon nonton kartun dari pagi sampai siang. Waktu itu, Indosiar dan RCTI adalah dua tv yang paling sering menayangkan kartun di hari Minggu.

Namun kini kondisi itu perlahan mulai berubah. Anak-anak sekarang punya pilihan media yang lebih banyak. Cukup bermodalkan internet dan gadget, mereka dapat menjelajah hiburan apapun dan dalam jenis apapun. Cukup sentuh dan klik mereka bisa menikmati segudang konten yang dulu sulit untuk kita bayangkan.

Dalam hal ini telah terjadi pergeseran perilaku konsumsi media. Jika dulu orang-orang mendapatkan informasi dari media mainstreram, maka kini mereka punya akses ke media baru (seperti media sosial, media online, dan berbagai jenis media baru lainnya).

Hal ini pun berdampak pada cara orang-orang beriklan. Semakin hari, pertumbuhan iklan digital terus meningkat. (Data cek di sini : DailySocial.id.)

Proyeksi belanja iklan di Indonesia.

Proyeksi belanja iklan di Indonesia. (Dikutip dari : DailySocial.id). Pertumbuhan iklan digital terus meningkat dari tahun ke tahun.

Contoh lain misalnya Facebook dan Google. Facebook dan Google bukanlah sebuah perusahaan media mainstream seperti halnya Kompas, RCTI, atau media-media mainstream lainnya. Namun ada yang unik dari dua perusahaan besar asal Amerika ini. Ketika Kompas, RCTI, SCTV, harus membayar para jurnalis/pekerja media, Google dan Facebook justru mereka tidak melakukan hal tersebut.

Alih-alih membayar jurnalis, mereka justru berinvestasi pada pengembangan platform mereka. Lalu menarik untuk bicara hasil, di manakah posisi Facebook dan Google?

Google dan Facebook berada pada posisi yang amat menarik. Mengacu pada data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Facebook dan Google menikmati 80 % pendapatan iklan digital Indonesia. (Sumber : Tribunnews).

Hal ini menjadi sebuah anomali. Di saat media-media online Indonesia berlomba mendapatkan trafik, Facebook dan Google justru meraup pendapatan terbesar. Facebook dan Google menjadi raja dalam industri iklan digital. Lantas, di manakah media online macam Detik.com, Kompas.com, atau media-media online lainnya?

Apa yang menyebabkan hal ini?

Menurut saya, salah satu penyebab hal ini adalah platform periklanan Facebook dan Google AdWords yang lebih canggih. Seperti yang pernah saya tulis di tulisan Apakah Jurnalistik akan Mati?, platform periklanan Google dan Facebook memungkinkan pengiklan menjangkau target pasar secara sangat tertarget dan efektif. Lebih menariknya, platform iklan tadi dapat dijangkau oleh banyak pebisnis kecil dan menengah yang notabene anggaran iklan mereka ndak besar-besar amat. 

Ambil contoh, untuk sekali beriklan di koran lokal dengan oplah di kisaran puluhan ribu, seorang pebisnis harus menganggarkan setidaknya jutaan Rupiah (untuk ukuran iklan yang relatif kecil). Pertanyaannya, apakah iklan tersebut efektif? Apakah iklan tersebut langsung bisa diukur performanya? Sayangnya cukup sulit untuk mengukur efektivitas iklan di media mainstream (seperti di koran).

Bandingkan dengan platform iklan Google dan Facebook, di mana para pengiklan bisa mengakses data performa ikan mereka secara real time melalui dashboard yang user-friendly. Saya pernah beriklan di Facebook dengan anggaran sekitar 200 ribu Rupiah dan mendapatkan fans sebanyak 1000 orang lebih. Bandingkan kalau uang 200 ribu tadi saya belanjakan untuk iklan di koran. Apakah mungkin saya mendapatkan 1000 orang fans baru di Facebook? Boro-boro fans, duit 200 ribu mah mana cukup buat beriklan di koran.

Belum lagi dengan hal menarik lainnya. Beberapa kali saya jumpai media online (seperti Merdeka.com) beriklan di Facebook. Lha ini kan unik, media yang sumber duitnya dari iklan, ternyata juga beriklan di Facebook. Ujung-ujungnya duitnya lari ke Facebook.

Contoh lain, Google punya program bernama Google AdSense. Lewat Google AdSense ini, Google bekerja sama dengan para publisher konten di internet (terutama blogger dan YouTuber). Jadi Anda dan saya, para pemilik website, kita bisa bekerja sama dengan Google. Tugas kita adalah menayangkan iklan Google. Ketika iklan tersebut diklik, kita akan mendapatkan bagi hasil dengan Google.

Lewat kata-kata "turn your passion into profit" Google menggoda creator andal untuk jadi buruh mereka.

Situs Google AdSense. Lewat kata-kata “turn your passion into profit” Google menggoda creator andal untuk jadi buruh mereka.

Di sini terlihat bahwa Google tidak perlu menggaji para content creator. Google tidak membayar jurnalis. Mereka bekerja sama dengan sistem sharing. Orang-orang yang passionate dalam blogging dan membuat konten inilah yang jadi buruhnya Google. Kalaupun toh konten tersebut tidak laku, maka Google tidak akan rugi, sebab ada jutaan publisher yang bekerja sama dengan Google. Bandingkan kalau suatu program TV ratingnya jeblok. Pusing tuh si televisi. Sudah membayar biaya mahal untuk produksi konten, eh malah ternyata ndak laku.

Saran Untuk Pelaku Jurnalistik, Khususnya Mahasiswa

Saran saya kepada teman-teman yang belajar jurnalistik adalah untuk berpikir secara luas dan menyeluruh. Jangan sekadar berpikir bahwa ah setelah lulus, gue mau kerja di Net TV, gue mau masuk di Kompas TV, gue mau jadi karyawannya Surya Paloh di Metro TV. Memang tak ada yang salah dengan impian berkarir di media. Justru itu bagus. Namun yang harus jadi pertimbangan adalah apakah nama-nama TV yang tadi disebut itu akan tetap eksis di masa depan? Atau justru sebagian dari mereka akan bertumbangan dan tinggal nama?

Jika revisi undang-undang penyiaran kita selesai dilakukan, maka besar kemungkinan sistem pertelevisian akan beralih ke tv digital. Artinya apa? Artinya pelaku bisnis media penyiaran akan semakin banyak. Semakin banyak pemain di suatu industri, maka yang berebut kue di industri tersebut akan semakin banyak. Ini akan berdampak pada persaingan yang semakin tinggi. Sesama media mainstream saja persaingannya sudah tinggi, belum lagi ditambah media baru di internet (seperti blog, YouTube, dan media sosial lainnya). Dengan persaingan yang makin ketat, maka akan ada banyak kejutan. Perusahaan akan berupaya bekerja seefisien mungkin, kalau perlu sampai merumahkan karyawan, memakai teknologi baru, dan membuat sistem yang lebih ramping.

Sebagai pemain di industri cetak (sebagai penulis), saya sudah meraskan bahwa industri buku mulai memasuki masa senja. Oplah cetak penerbit makin hari semakin berkurang. Bukan tidak mungkin suatu saat industri penerbitan cetak akan punah, berganti ke digital. (Ah sudahlah, kalaupun memang harus punah ya sudah. Aku tak mau menyesali romansitme media cetak. Dalam kacamata bisnis, romantisme hanya sekadar bumbu. Yang lebih penting adalah mencetak profit yang gemilang.)

Nah, akan lebih baik kalau kita tidak hanya belajar bagaimana menjadi seornang jurnalis andal. Tetapi bolehlah untuk berpikir bagaimana menjadi creator yang andal. Yang tidak hanya sekadar bisa menulis berita atau memproduksi konten, tetapi juga mampu menciptakan platform periklanan yang lebih dahsyat.

Sebab industri iklan akan bergeser ke ranah digital. Yang jadi persoalan bukan lagi konten apa yang harus dihasilkan, melainkan platform periklanan mana yang terbaik. Platform yang paling banyak penggunanyalah yang akan jadi pilihan para pengiklan. Facebook dan Google menjadi raja iklan digital karena merekalah yang punya pengguna paling banyak. Di sisi lain, Facebook dan Google pandai “menjual”data user mereka ke pengiklan.

Dalam industri iklan digital, data dan grafik sudah jadi makanan sehari-hari para pengiklan.

Dalam industri iklan digital, data dan grafik sudah jadi makanan sehari-hari para pengiklan.

Kesimpulannya, industri iklan sudah bergeser ke tren “menjual” data. Games yang kita mainkan di smartphone, video yang kita akses di YouTube, status yang kita tulis di Facebook, keywords yang kita gunakan di Google, semua itu adalah data yang dikumpulkan oleh para pengembang platform. Selanjutnya data dalam jumlah besar (big data) tadi dijadikan sebagai keunggulan platform periklanan digital. Makin “seksi” data yang dimiliki sebuah platform maka pendapatan iklan platform tersebut akan semakin dahsyat.

Siap untuk menjelajah dunia baru?

Jangan hanya jadi seorang jurnalis, tapi jadilah creator yang andal. Jangan takut untuk mulai bermain di industri data. Jangan sekadar puas kalau nilai UAS videografi, penulisan berita, atau feature writing-mu A, tapi cobalah untuk belajar tentang big data, digital marketing, dan pengembangan platform.

Jefferly Helianthusonfri

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.