Kenapa Butuh Passion dalam Perkuliahan?

oxford univ

10 Mei 2016, saya bersama dua teman menunggu seorang narasumber di Pondok Indah Mall, Jakarta. Kami sudah menunggu sejak pukul dua siang. Sayangnya wawancara baru dapat dilakukan pada pukul lima sore. Untuk wawancara yang hanya berlangsung sekitar 15 menit, kami harus menunggu lebih dari tiga jam.

Narasumber tersebut adalah seorang pakar ekonomi yang juga dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Beliau termasuk salah satu peneliti di Institute for Development of Economic and Finance (Indef). Kebetulan hari itu beliau dapat menemui kami. Sayangnya kami terpaksa menunggu karena beliau ada meeting bersama kliennya.

Menunggu, pekerjaan yang kadangkala dilakukan oleh para jurnalis. Ini bukan kali pertama saya harus menunggu untuk bisa mewawancarai seseorang, terlebih jika orang tersebut punya kedudukan yang tinggi dan sibuk.

Bagi sebagian orang, proses menunggu kadang melelahkan. Namun meski itu melelahkan, saya berusaha tetap menjalaninya dengan gembira.

Bukan hanya persoalan menunggu, persoalan deadline juga menjadi tantangan ketika kalian kuliah di bidang jurnalistik. Dalam satu minggu ada berbagai tugas yang harus dikerjakan. Tugas ini beragam, mulai dari presentasi suatu topik, pembuatan makalah, riset untuk karya yang ingin kalian buat (misal : riset untuk tulisan feature, riset untuk berita TV, dan lain sebagainya), menulis naskah untuk berita, dan masih banyak lagi.

Menjalani semua kesibukan di atas memang melelahkan. Untuk itu, kita butuh passion dalam menjalani perkuliahan. Sebab tanpa passion, perkuliahan akan terasa hambar, buang-buang waktu, dan sekadar mengisi kesibukan.

Passion = Energi yang Melejitkan Prestasimu

Tingkat passion/kecintaan yang kamu miliki akan berbanding lurus dengan prestasimu. Ambil contoh,  ketika kamu kuliah di jurusan yang benar-benar kamu sukai, maka mendapatkan IPK di atas 3,5 bukanlah perkara sulit. Passion ini menjadi semacam energi yang membuat kamu melakukan hal-hal  lebih dibanding orang rata-rata.

Emang IPmu berapa Jeff?

IP-ku cukup lah ya. Kira-kira tiga koma.

Masuk semester tiga langsung koma.

Ambil contoh misalnya dalam dunia jurnalistik. Orang yang punya passion dalam jurnalistik akan lebih dalam saat mengerjakan suatu karya jurnalistik. Ketika orang lain hanya sebatas menyelesaikan karya untuk mengumpul tugas, maka si orang yang passionate tadi mengerjakan karya sebagai sebuah master piece.

Hasilnya bisa diduga, si passionate tadi akan melakukan hal-hal yang lebih. Ia melakukan riset yang lebih mendalam, ia mengeluarkan effort yang lebih untuk mewawancarai narasumber, ia lebih berani dalam mengambil gambar untuk liputan berita, ia menggunakan teknologi yang lebih unggul saat meliput (misal : menerapkan drone journalism) dan lain sebagainya.

Dari pengalaman saya, melakukan aktivitas yang sesuai passion menjadikan kita lebih berbahagia. Entah kenapa kita akan merasa baik dan begitu bergembira. Sekalipun dukungan orang lain tidak ada (atau minim), kita tetap melakukan apa yang kita cintai. Bahkan saya tidak pernah memedulikan apresiasi apa yang akan diberikan oleh kampus terhadap apa yang saya kerjakan. Bagi saya, passion menjadikan saya mandiri dan dapat berkarya secara independen.

Orang-orang yang punya passion akan mengambil tanggung jawab pribadi, tidak menyerahkan nasibnya di tangan segelintir orang/pihak. Sekali lagi, passion menjadikan hidup lebih bergairah, kita akan termotivasi untuk membuat karya-karya yang luar biasa.

Hanya Ada Dua Pilihanperpustakaan

 

Hanya ada dua pilihan bagi kalian. Pertama, lakukan apa yang menjadi passion kalian. Pilihan kedua, cintai apa yang kalian lakukan. Dalam konteks ini, saya lebih memilih untuk melakukan apa yang menjadi passion saya.

Jika tidak ada kecintaan dalam aktivitas yang kita lakukan, semua akan terasa berat dan sia-sia. Namun ketika kita punya passion, segala sesuatu seolah menjadi nothing to lose. Kalaupun berhasil ya disyukuri, kalau belum berhasil, ya gue nggak rugi apa-apa. Woles aja. Setidaknya gue beruntung bisa mengerjakan apa yang gue sukai.

Oleh karena itu, buat kalian yang hendak memilih jurusan kuliah, pilihlah jurusan yang menjadi passion kalian. Jangan memilih jurusan hanya karena ikut-ikutan teman atau dipilihkan orang tua.

Tak ada yang salah dengan memilih jurusan yang dipilihkan orang tua. Namun kalian harus tahu apakah kalian mencintai pilihan tersebut atau tidak. Salah satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah nanti kamu mau jadi apa. Contoh, kalau kamu punya impian untuk menjadi seorang desainer yang sukses, punya banyak karya dalam bidang desain, maka kamu bisa memilih jurusan kuliah komunikasi visual/desain.

Kalau nanti kamu ingin jadi pengusaha yang hebat dalam bidang teknologi informasi, maka kamu bisa mengambil kuliah di bidang teknologi informasi. Ingat, pilihlah jurusan kuliah yang benar-benar sesuai passionmu. Tujuannya supaya kamu enjoy dalam menjalani perkuliahan. Sebab kuliah S1 itu tidak sebentar, setidaknya kamu harus menghabiskan waktu selama tiga tahun lebih untuk menamatkan kuliah tersebut.

Jadi, alangkah sedihnya hidup kalian kalau selama tiga tahun kalian harus melakukan hal-hal yang tidak kalian sukai. Pilihannya cuma dua, cintai apa yang kalian kerjakan atau kerjakanlah apa yang kalian cintai.

Jefferly Helianthusonfri

 

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.