Mencoba Backpack Journalism

backpack journalism

Dalam kegiatan jurnalistik, muncul satu istilah baru, yakni backpack journalism.

Saya pertama kali mendengar istilah backpack journalism saat mengikuti sebuah seminar bertajuk “Backpack Journalism vs TV Journalism” di Universitas Multimedia Nusantara. Dalam seminar yang diselenggarakan pada Kamis, 31 Maret 2016 itu, hadir dua pembicara. Salah satunya ialah Mas Dandhy Laksono dari Watchdoc.

Sehabis mengikuti seminar tersebut, saya menjadi tahu apa itu backpack jorunalism. Bahkan jika disuruh memilih, saat tulisan ini dibuat, saya cenderung lebih menyukai model backpack journalism. Mengapa? Mari kita bahas dalam tulisan berikut.

Mengenal Backpack Journalism

Backpack journalism bisa dibilang sebagai istilah baru dalam dunia jurnalistik. Bahkan saat saya mencoba googling tentang backpack journalism, belum banyak bahasan backpack journalism dalam bahasa Indonesia. Wikipedia mengartikan backpack journalism sebagai sebuah bentuk jurnalisme di mana jurnalis diharuskan mampu bekerja sebagai reporter, fotografer, videografer, serta menjadi editor dan produser dari liputan/suatu cerita.

Seorang backpack journalist juga harus punya kemampuan videografi dan atau fotografi.

Seorang backpack journalist juga harus punya kemampuan videografi dan atau fotografi.

Singkatnya, seorang jurnalis akan mengemban beberapa pekerjaan sekaligus. Ya dia yang liputan, dia yang nulis naskah, dia yang mengambil gambar, sampai dia sendiri yang mengedit gambar/video yang didapatkan.

Ketika ditanya mengapa Watchdoc memilih berkarya di backpack journalism, Mas Dandhy berujar bahwa Watchdoc hadir untuk mereka (audiens) yang sudah bosan dengan tayangan televisi berita di Indonesia.

Siapa yang tak bosan jika kita terus menerus melihat televisi kerap dipakai untuk kepentingan pemilik. Entah itu kepentingan ekonomi atau kepentingan politik. Penonton mana yang tak bosan kalau tv nya terus menerus menyiarkan iklan lagu partai.

Menjadi seorang backpack journalist artinya kita akan bekerja lebih keras dibanding jurnalis umumnya. Misalkan jika kita bekerja di televisi, maka ketika liputan kita akan meliput bersama beberapa orang sekaligus. Ada kameraman, ada driver. Namun ketika menjalani backpack journalism, maka tidaklah mengherankan kalau seorang jurnalis meliput sendiri. Ya dia yang nyetir, dia yang meliput, dia yang mengambil gambar, pokoknya seperti one man band.

Selain itu, backpack journalism dapat lebih independen jika dibanding jurnalis TV. Jurnalis TV pasti bekerja untuk televisinya. Ada aturan-aturan redaksi yang pasti harus dituruti. Jika kita tidak mengikuti aturan redaksi, maka sudah tentu posisi karir bisa berada di ujung tanduk.

Dalam seminar yang tadi saya sebutkan, Mas Dandhy mencontohkan bahwa Metro TV (pasti) tidak akan mengangkat liputan tentang reklamasi pantai Jakarta. Sudah tahu dong kenapa, ya apalagi kalau bukan persoalan kepentingan politik pemilik.

Backpack journalism relatif lebih independen, alhasil jurnalis ransel (backpack) itu dapat membuat liputan-liputan yang beda dengan TV. Mereka dapat membahas isu-isu yang belum (atau sengaja tidak) dijangkau oleh jurnalis TV. Isu-isu lingkungan, budaya, merupakan contoh isu yang dapat menjadi kekuatan utama para backpack journalist. Di saat TV/media mainstream belum membahas suatu isu, maka jurnalis backpack dapat terjun ke lapangan untuk membuat liputan tentang isu tadi.

Hanya saja, menjadi backpack journalist tidak selalu keren dan terlihat hebat. Adakalanya kerap dijumpai sejumlah tantangan. Misalnya dipandang sebelah mata oleh narasumber. Seorang jurnalis (mungkin) akan terlihat lebih gagah dan punya posisi tawar tinggi jika ia membawa nama media besar (macam Kompas, RCTI, SCTV, atau Tempo). Sementara backpack journalist tentu tidak membawa nama media besar.

Mulai Mencoba Backpack Journalism

Usai mendengar penjelasan Mas Dandhy dalam seminar tadi, saya jadi menyadari bahwa ternyata saya mulai coba-coba menjalani backpack jorunalism. Ada satu kebiasaan yang membuat saya telah terjun ke dunia backpack journalism. Kebiasaan yang saya maksud adalah saya sering bepergian ke suatu daerah sendirian. Ketika traveling, saya lebih sering berangkat sendiri. Bagi saya, agak lebih asyik kalau kita menjalani traveling sendirian. Kita bisa benar-benar menikmati kesendirian, hanya bersama diri kita.

Salah satu contoh video backpack journalism yang sudah saya publikasikan misalnya seperti video berikut.


Ya memang video tadi belum sempurna. Ada beberapa tayangan yang gambarnya masih goyang (karena waktu liputan, dengan bodohnya saya tidak membawa tripod 🙁 ). Kendati demikian saya cukup senang karena saya sudah mulai mencoba backpack journalism. Proses pengerjaan video tadi saya kerjakan sendiri. Dari mulai pengambilan gambar, penulisan naskah, editing, sampai publishing saya kerjakan sendiri.

Kendati demikian, dalam kesempatan berikutnya saya sangat antusias untuk kembali menerapkan backpack journalism. Bahkan saat posting ini sedang ditulis, saya sedang memikirkan ide untuk video kedua. Videonya masih seputar liburan di Belitung Timur, namun akan saya kemas dengan lebih menarik.

Kedepannya saya yakin akan semakin banyak jurnalis yang menjalani kegiatan backpack journalism. Sebab saat ini ada banyak media yang dapat kita gunakan untuk publikasi. Untuk menjadikan karya jurnalistik kita ditonton/dibaca ribuan orang, kita tak harus bekerja di media mainsteram. Bermodalkan sebuah blog atau channel di YouTube, kita bisa menjadikan karya kita dinikmati ribuan orang.

Dari segi bisnis, backpack journalism cenderung lebih efisien. Karena pekerjaan reporter, fotografer, penulis naskah, pengisi suara, editor, bahkan produser dapat diserahkan pada satu orang yang sama. Biaya liputan bisa jadi lebih murah dan hasil yang didapat tak kalah memuaskan.

Dan yang paling penting adalah dengan membiasakan diri untuk backpack journalism, kita dapat meningkatkan kemampuan jurnalistik secara drastis. Jika dulu (di tahun pertama kuliah) saya hanya bisa menulis, maka sekarang saya semakin percaya diri sebab saya bisa berperan sebagai fotografer, videografer, dan tentunya editor.

Bagaimana, Anda tertarik untuk mendalami backpack journalism? 🙂

Jefferly Helianthusonfri

One comment

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.