Raymond Kaya, Dosen yang Mengajak Untuk Berpikir

Raymond Kaya (paling kiri, berkemeja hitam). Sumber gambar : ImKom UMN.

Raymond Kaya (paling kiri, berkemeja hitam). Sumber gambar : ImKom UMN.

Tak banyak orang yang bisa jadi dosen spesial di hati saya. Saat tulisan ini dibuat, saya sudah empat semester kuliah di UMN (Universitas Multimedia Nusantara). Dari puluhan dosen yang sudah mengajar saya, hanya ada beberapa nama yang cukup spesial.

Nama-nama yang spesial tadi adalah dosen-dosen andal. Mereka bukan sekadar dosen. Lebih dari itu mereka sudah saya anggap sebagai guru yang tidak hanya mengajarkan tentang ilmu komunikasi/jurnalistik, tetapi juga mengajarkan bagaimana cara hidup.

Salah satu nama dosen yang spesial bagi saya adalah Raymond Kaya. Jurnalis senior di SCTV ini bukan sekadar mengajarkan mahasiswanya menjadi jurnalis andal. Ia menekankan pentingnya untuk menjadi insan yang kritis, skeptis, dan tidak bisa dibegoin orang.

Dalam tulisan ini saya akan cerita beberapa hal terkait dosen yang mengajar mata kuliah Teknik Interview dan Reportase tersebut. Intinya dosen ini bukan sekadar dosen, tetapi layak dianggap sebagai abang yang membantu adik-adiknya menjalani hidup lebih baik.

Catatan Untuk Mereka yang Kuliah Jurnalistik

Dalam setiap perkuliahan yang ia bawakan, Pak Raymond sering berkata (secara tersirat) bahwa sebenarnya kuliah jurnalistik itu tidak menjamin seseorang menjadi jurnalis andal. Ia kerap mengingatkan para mahasiswa agar memahami konteks.

Ambil contoh begini, kita diminta untuk bikin berita tentang peristiwa internasional (misalkan konferensi OKI/Organisasi Kerja Sama Islam), jurnalis yang tidak ngerti konteks cenderung akan seperti seorang sekretaris.

“Mohon maaf nih, lu pada bukan sekretaris. Lu-lu itu jurnalis. Lu kudu ngerti konteks, berpikir, dan gak sekadar nerima apa yang diomongin orang. Kalo sekretaris, apa yang diomong bosnya dia catet. Sekretaris gak pernah protes atau ngatur-ngatur bosnya.” begitu kira-kira kata Raymond ketika ia sedang menerangkan di depan kelas.

Seorang sekretaris, kata Raymond Kaya, cenderung mengikuti apa kata bosnya. Ia sekadar mencatat apa yang dikatakan bosnya. Nah kalau jurnalis hanya sekadar mencatat hasil konferensi pers, atau sekadar menerima dan mencatat informasi doang, ia lebih mirip seorang sekretaris. Seorang jurnalis harus mikir, skeptis, dan harus berpikir jauh ke depan.

Dengan memahami konteks, seorang jurnalis akan tahu mengapa si tokoh A berkata “A”, mengapa si tokoh B cenderung mengeluarkan kebijakan “B”. Dengan memahami konteks, jurnalis tidak akan gampang dibodohi oleh narasumber. Alih-alih dengan polos menerima kebijakan yang dibuat oleh si tokoh A, si jurnalis pasti akan berpikir, “bener gak sih? hah masa iya?” Jurnalis akan skeptis dan terus mencari jawaban yang lebih baik.

Pemahaman konteks ini hanya bisa dicapai kalau si jurnalis tahu betul bidang tersebut. Contoh kalau konteksnya adalah hubungan internasional, maka si jurnalis harus punya pengetahuan tentang dunia dan hubungan internasional. Tanpa semua itu, sangat sulit bagi jurnalis untuk membuat berita yang tajam.

Raymond Kaya (sewaktu masih) muda.

Raymond Kaya (sewaktu masih) muda.

Menurut Raymond, sayangnya mahasiswa jurnalistik lemah di bidang ini. Di tahun pertama mungkin si jurnalis (orang yang kuliah jurnalistik) akan lebih unggul dibanding teman jurnalisnya (yang tidak kuliah jurnalistik, tapi kuliah bidang lain, misal : ekonomi/politik/hukum, dsb). Tapi memasuki tahun kedua, dapat dipastikan si jurnalis akan mulai keteteran jika ia tidak berbenah.

Seorang jurnalis (yang hanya kuliah jurnalistik) memang punya kemampuan lebih di bidang komunikasi (misal : jago ngomong, pintar fotografi, andal dalam videografi, dsb). Namun ketika bicara konteks dan pengetahuan yang dalam akan suatu bidang, seringnya adalah si jurnalis tadi akan kalah dari teman-temannya yang lulusan hubungan internasional, hukum, atau ekonomi.

Inilah catatan yang terus-menerus digaris bawahi oleh si Raymond Kaya. Berkali-kali ia mengingatkan mahasiswanya agar jadi orang yang kritis dan rajin memperkaya pengetahuan.

Jago Menghibur dan Mencairkan Suasana

Anda boleh bilang ekspektasi saya terlalu tinggi, tapi beginilah adanya. Bagi saya dosen andal juga harus mampu menghibur mahasiswa. Dosen yang hanya sekadar membawakan slide presentasi (apalagi kalau membosankan), tak lebih dari seorang yang kebetulan jadi dosen dan mahasiswa seolah “dipaksa” untuk mendengarkan materinya.

Kendati demikian, ini tidak berlaku bagi si Raymond Kaya. Dosen satu ini jago banget menghibur dan mencairkan suasana. Topik-topik berat macam politik, hukum, kebijakan dan isu publik (seperti kereta cepat, banjir Jakarta, persenjataan militer Indonesia) dapat dibawakan dengan suasana santai bak obrolan di warung kopi. Alih-alih mengikuti kuliah dengan ngantuk, mahasiswa dibuat tertawa. Adakalanya timbul ironi ketika kami (para mahasiswa) dengan gampangnya menertawai bangsa sendiri.

“Ngikutin kelas dia berasa kayak lagi nonton stand up comedy.” kata salah satu teman saya, Jonathan.

Saat hendak memulai perkuliahan, Raymond pernah berkata begini.

“Ya… hari ini slide kita agak banyak,” kata Raymond sembari mempersiapkan komputernya.

Tak lama berselang terlihat bahwa slide yang ia siapkan hanya 7 slide. Langsung ia disambut oleh tertawaan dari mahasiswa.

Saya sangat menyukai perkuliahan yang dibawakan oleh Raymond Kaya. Bahkan pada salah satu teman saya pernah berkata begini.

“Gw justru lebih suka kuliah hari Sabtu. Daripada kuliah Jumat atau hari laen, gw kuliah Sabtu gak apa dah. Asalkan dosennya asik.”

Prediksi saya seolah dijungkirbalikkan. Saat pengisian KRS (Kartu Rencana Studi), dalam benak saya muncul perasaan begini. “Sial, gw dapet kuliah Sabtu. 6 sks lagi.” Semula saya merasa suasana bakal suram karena hari Sabtu yang idealnya dipakai untuk bersantai, jalan-jalan, malah dipakai untuk kuliah 6 jam. Tapi kenyataannya saya justru lebih bersemangat kuliah di hari Sabtu karena dosennya asik. Sebaliknya di hari-hari lain ada kalanya saya ngerasa, “ah.. ketemu die lagi-die lagi..,” sembari mengingat wajah-wajah dosen yang perkuliahannya agak membosankan.

Hidup mahasiswa sudah terlalu banyak beban. Jadi alangkah jahatnya ketika seorang dosen membebankan syarat ini-itu kepada mahasiswa. Apalagi jika perkuliahannya membosankan. Rasanya saya ingin berkata, “bangke nih dosen. Kenapa tiap tahun lu yang ngajar mata kuliah ini. Kagak ada dosen laen apa.”

Tapi untunglah, di Sabtu pagi yang biasanya mengantuk itu, saya justru semangat untuk kuliah. Tak lain tak bukan saya menanti jokes segar dari seorang Raymond Kaya.

Tulisan ini adalah bentuk apresiasi saya pada Raymond Kaya. Sebagai seorang (calon) jurnalis tidaklah elok kalau saya terlalu memuji seseorang setinggi langit. Kendati demikian, tulisan ini bukanlah pujian settinggi langit. Saya tak suka memuji orang setinggi langit. Tapi saya akan sangat suka mengapresiasi orang yang memang inspiratif dan layak diapresiasi.

Dalam hal ini saya mengakui bahwa Raymond Kaya bukan sekadar dosen. Beliau sudah menjadi abang, kakak senior, atau apalah istilahnya (bak film-film Hongkong, bolehlah dia dibilang kakak tertua) yang menginspirasi adik-adiknya yang masih kuliah.

Pak Raymond Kaya, I salute you.

Jefferly Helianthusonfri

Buat anak-anak UMN yang bakal mengambil mata kuliah Teknik Interview dan Reportase, saya sarankan Anda mengambil kelas yang diajar oleh Raymond Kaya. Nih dosen, sangat saya rekomendasikan.

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.